Rabu, 19 Desember 2012

Laa Tahzan innallaha ma'ana .

Pagi ini aku merenung seorang diri, merenungkan perjalanan seorang ibu yang saat ini menderita sakit pada kakinya dan hampir lumpuh. Perkenalkan dahulu nama saya Iin Indrawati, sekarang saya belajar di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Langsung saja saya lanjutkan cerita saya yang diatas. Sebut saja nama ibu itu adalah ibu Asiyah, usia beliau sekarang sekitar 54 tahun. Beliau adalah sosok wanita yang cantik, lembut, penuh kasih sayang, pekerja keras, penyabar serta tanggung jawab akan keluarganya. Beliau dianugrahi 3 orang putra dan 3 orang putri. Ibu Asiyah menikah pada usia 18 tahun, karna dahulu ibu Asiyah bisa dikatakan sebagai anak orang yang kurang mampu, ayahnya meninggal saat beliau berusia 8 tahun atau sekitar kelas 2 SD. Ibu Asiyah adalah anak bungsu dari 8 bersaudara. Beliau hanya tamatan Sekolah Dasar (SD), karena bisa dibilang beliau bukan orang yang pandai dalam pelajaran umum. Namun karena kecantikannya itu, dia menjadi bunga desa di desanya. Banyak orang yang suka padanya, bahkan setelah dia sudah berusia 17 tahun banyak pemuda yang datang untuk memintanya menjadi istri. Dari mulai profesi Guru, TNI, dan ada juga Insinyur dari luar negri yang bertugas di Surabaya waktu itu juga menyukainya. Namun ibu Asiyah menolaknya karena tidak suka. Tak lama setelah itu ibu Asiyah kenal dengan seorang pemuda yang jujur, pandai, baik tutur katanya, berwibawa dan beliau adalah seorang penjahit di dekat pasar, sebut saja namanya Pak Aji. Beliau adalah orang pinggiran kota, beliau rajin shalat dan beribadah. Beliau tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Mungkin karena memang sudah jodohnya, Pak Aji juga suka dengan kepribadian Bu Asiyah. Setelah sudah kenal setahun kemudian beliau menikah dengan Bu Asiyah. Keluarga kecil yang bahagia, ibu Asiyah merawat anak di rumah dan Pak Aji menjahit pakaian untuk mencari nafkah. Kadang Bu Asiyah juga membantunya menambal pakaian-pakaian yang bolong dan hasilnya lumayan banyak, cukup untuk makan setiap hari. Dan uang dari hasil Pak Aji ditabung sehingga belum 2 tahun menikah beliau sudah bisa membangun rumah sendiri. Bisa dibilang dahulu keluarga Pak Aji adalah keluarga yang kaya dan terpandang di desa itu, karena Pak Aji juga aktif dalam membangun kegiatan-kegiatan di desa. Dari mulai muslimatan, diba’an sampai ngaji di rumah-rumah warga. Jadi tak heran bila Pak Aji selalu dihormati oleh orang-orang yang ada di desa itu waktu itu. Kebahagiaan, kemakmuran, dan keberkahan selalu hadir di tengah-tengah keluarga kecil Pak Aji hingga kelahiran anak yang ketiga. Setelah kelahiran anak yang keempat Pak Aji dan keluarga kecilnya pindah mengontrak rumah di sekat pasar karena rumahnya itu di jual untuk membeli stand di pasar untuk membuka usahanya menjadi pedagang kain dan pakaian. Semua itu sudah dipikirkan secara matang oleh Pak Ajib dan Ibu Asiyah karena hasilnya sangat menjanjikan. Memang benar karena usahanya itu keluarga Pak Aji makin lebih banyak penghasilannya, bisa 5x lebih banyak dari sebelumnya. Namun dari sini awal penderitan yang harus ditanggung Ibu Asiyah. Saat itu ibu Asiyah sedang mengandung anak kelimanya. Dengan banyaknya uang saat itu Pak Aji mulai berani main judi kecil-kecilan dengan teman pasaran. Setelah kurang puas dengan uang kecil beliau main secara besar-besaran hingga jutaan rupiah. Dia lebih sering meninggalkan shalat dan ibadah lainnya. Apalagi setelah meninggalkan desa beliau tidakpernah lagi mengurusi kegiatan-kegiatan di desa yang di tinggalkan lagi. Hingga sampai barang-barang yang ada di dalam rumah itu digadaikan untuk judi. Ibu Asiyah hanya sering menangis dengan perubahan sifat Pak Aji. Yang dahulu sholeh sekarang jadi begini. Bahkan jika Pak Aji kalau berjudi beliau sering marah-marah tidak jelas pada Ibu Asiyah, kesalahan-kesalahan kecil yang dibuat Ibu Asiyah selalu di besar-besarkan. Pada saat kelahiran anak keliamanya Pak Aji tidak menunggui istrinya, malah beliau asik judi dengan teman-temannya. Sedih sudah pasti dirasakan oleh ibu Asiyah karena baru kali pertama beliau melahirkan tanpa didampingi oleh suaminya. Semakin hariibu Asiyah semakin tersikasa dengan perlakuan Pak Aji yang tiap hari pulang malam karena berjudi, suka menggadaikan barang-barang dalam rumah hingga tak ada satupun barang berharga yang tersisa di dalam rumah. Kehidupan keluarga Ibu Asiyah sudah berbeda sekali dengan saat-saat masih di desa dahulu, usaha dagang kain dan pakaian di pasar juga semakin sepi karena makin banyak saingan. Dan akhirnya harta Pak Aji sudah habis buat berjudi, kemudian Pak Aji meninggalkan dagang kainnya dan beralih menjadi wirausaha sebuah produk bumbu makanan yang jarang sekali produksinya pada saat itu. Setelah Pak Aji memproduksi barang tersebut kemudian beliau memasarkannya, namun hari itu dagangan Pak Aji tak ada satu pun yang laku terjual, sehingga membuat ibu Asiyah nekat terjun ke pasar sendiri untuk memasarkan barang dagangannya tersebut. Walhasil karena ridho Allah SWT dagangan nya habis terjual semua. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Sekarang anak-anak Bu Asiyah sudah besar-besar dan berhasil. Kini ibu Asiyah dan Pak Aji tinggal menikmati segala jerih payahnya. Sedikit cerita itu dari saya, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari sini salah satunya adalah : LAA TAHZAN INNALLAHA MA’ANA .. ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar